Langsung ke konten utama

Sejarah Desa Pulau Gemantung


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Pulau Gemantung adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Borak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan tepatnyadisekitaran daerah komering pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa  Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan komering.
Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, sajaman rik Tanoh Pagaruyung pemerintah Bunda Kandung, cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Borak, sanagun kok turun-temurun jak ninik puyang paija, cambai urai ti usung dilom adat pusako".
Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan Ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Borak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka".
Mayoritas mata pencarian Masyarakat Pulau Gemantung adalah bertani, berkebun, dagang, abdi negara dan masyarakat. Hal lain yang cukup menarik yaitu kebiasaan dari sebagian penduduknya, terutama laki-laki yang sudah berusia matang akan cenderung pergi merantau (keluar daerah) dengan berbagai alasan dan kepentingan, baik untuk bekerja atau menuntut ilmu (belajar), kebiasaan yang telah lama berlangsung ini memang telah menjadi kebiasaan masyarakat pulau gemantung dan disebabkan juga karena jauhnya akses ke pusat kota dan pemerintahan, ketersediaan lapangan pekerjaan dan peluang upaya pengembangan diri serta peluang pencarian nafkah di daerah tersebut masih sangat minim.
Hampir seluruh Masyarakat pulau gemantung berpedoman kepada hukum Islam yang penerapannya diselaraskan dengan budaya setempat serta tidak mengurangi dan mencemari kemurnian keduanya.Bauran unsur pengaruh budaya tersebut menjadi sangat harmonis dan menjadi jati diri yang utuh dari masyarakat Pulau Gemantung, yang tentunya harus dapat dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerusnya.


B.       Rumusan Masalah
1)   Bagaimana sejarah Desa Pulau Gemantung ?
2)   Apa makna lambang Desa Pulau Gemantung ?

C.       Tujuan
1)      Mengetahui  sejarah Desa Pulau Gemantung ?
2)      Mengetahui makna lambang Desa Pulau Gemantung ?


BAB  II
PEMBAHASAN

A.       Sejarah Desa Pulau Gemantung
Asal mula terbentuknya desa Pulau Gemantung,  Dahulunya bernama Negeri Ratu, Kampung  Marga Negeri Ratu ini berbatas dengan sebelah ulu dari desa Gunung Batu yang dilalui oleh Batang hari Bengkulah,sampai dengan Desa Kelampaian (Muara Batang hari bengkulah atau Rantau Alai sekarang)
Suku Komering atau Marga,berasal dari berbagai daerah, pertama berasal dari sekala borak  Ranau (Lampung), sebagian penduduk  Sekala borak mengungsi sebanyak 45 jiwa, dengan mengendarai lima buah rakit yang terbuat dari Bambu dengan menyusuri Sungai Komering, melaju masuk ke Batang Hari Bengkulah dan, kelima Rakit tersebut bercerai- berai peristiwa ini terjadi di zaman sunan Palembang  :
1)    Rakit pertama, singgah/berlabuh diumbulan Tanjung Mas (Tanjung Baru)
2)    Rakit kedua, singgah/berlabuh diumbulan Negeri  Ratu ( Pulau Gemantung)
3)    Rakit ketiga, singgah/berlabuh diumbulan kuta budi (kota bumi)
4)    Rakit keempat, singgah/ berlabuh di umbulan penanggungan (tanjung laga)
5)    Rakit kelima, singgah / berlabuh diumbulan Ulak lebar (Ulak balam)
Karena Rakit tersebut diketuai oleh seorang ketua Rombongan yang bernama Sandawa Ratu, Dari hasil musyawarah mereka terciptalah pusat pemerintahan yang diketuai oleh Sandawa Ratu tersebut terletak diilir desa Pulau Gemantung sekarang (Tiuh Usang)
Beberapa tahun berselang Sandawa Ratu wafat, dan untuk melanjutkan kepemimpinannya Sandawa Ratu menurunkan kepada anaknya yang tertua yaitu Ratu Sanggenab, dan diberikanlah tahta kerajaan sunan Palembang, dengan pangkat Pangeran Ratu Sanggenab, Singkat cerita di desa marga bengkulah Negeri Ratu (Pulau gemantung) lahirlah seorang putri berambut panjang bagai mayang yang terurai rapi putri tersebut bernama Putri Darah Putih.
Di desa ini juga ada seorang pemuda gagah nan tampan dia terkenal dengan sumpah yang keluar dari mulutnya pemuda tersebut bernama Si Pahit Lidah, pada zaman itu Si Pahit Lidah berkeinginan menguasai Negeri Ratu (Pulau Gemantung) dan akan meminang atau melamar Putri  Darah  Putih  sebelum pinangan berlanjut, Putri Darah Putih mengajukan beberapa syarat ( permintaan ) kepada sipahit lidah, jika permintaan ini dapat di kabulkan , pinangan atau lamaran sipahit lidah dapat di terima oleh putri darah putih, adapun syarat-syaratnya antara lain :
1)   Sipahit lidah dapat mengadakan anyaman dari beras
2)   Sipahit lidah dapat mengadakan tali yang terbuat dari  abu
3)   Sipahit lidah dapat mengadakan seratus tusuk sate yang terbuat dari seekor  (daging) burung pipit
Selang waktu beberapa bulan permintaan Putri Darah Putih tidak dapat dikabulkan oleh sipahit lidah, maka sipahit lidah mengambil alih sebaliknya ia meminta petunjuk lebih dahulu kepadanya sebagaimana corak-corak permintaan putri darah putih tersebut seperti, anyaman dari beras lalu putri mengirimkan kerak nasi diatas talam, talam adalah (panci besar) dan tali yang terbuat dari abu Siputri mengirimkan tali yang terbakar diatas talam dan  untuk membuat seratus tusuk sate yang terbuat dari daging seekor burung pipit terlebih dahulu si putri darah putih meminta pisau dari sipahit lidah sebanyak seratus buah pula yang terbuat dari seratus buah jarum guna untuk mengiris-iris daging burung pipit di desa tersebut.
Akhirnya, Si Pahit Lidah mengirimkan seratus buah pisau yang terbuat dari sebuah jarum, guna untuk mengiris-iris daging seekor burung pipit tersebut. Keesokan  harinya siputri mengirimkan seratus tusuk sate yang dibuat dari seekor kerbau begitu melihat kesanggupan putri untuk mengadakan persyaratanyang diberikan untuk dirinya, sipahit lidahpun merasa kagum atas kecerdasan yang dimiliki oleh Putri Darah Putih.
Suatu ketika sipahit lidah ingin menemui Putri Darah Putih di tengah perjalanan nya yang bertepatan di Muara Batang Hari Bengkulah (Desa kalampaian atau Rantau Alai sekarang) sipahit lidah melihat suatu keanehan di serumpun bambu kelihatan olehnya pada kuncup batang bambu  tersebut, bergantungan bungkusan gula aren.  Ia mengira bahwa penduduk desa atau marga Negeri Ratu sangat kuasa dan sakti- sakti.
Melihat keanehan tersebut  semua niatnya untuk menguasai Negeri Ratu (Pulau Gemantung) dan meminang Putri Darah Putih dibatalkan. Lalu Si Pahit Lidah meneruskan perjalanannya ke arah ulu marga Negeri Ratu atau ke arah Batu Raja sekarang.
Pada tahun 1908  marga Negeri Ratu dibawah kepemimpinan pangeran besar H. Usman Desa ini dipindahkan yaitu ke ulu ( desa ini sekarang ) karena beberapa alasan Sesutu hal antara lain :
1)      Marga Negeri  Ratu pernah mendapat musibah kebakaran
2)      Sudah sempitnya wilayah kependudukannya
 
Gambar 1. Rumah pangeran besar H. Usman
Maka dalam kebijakan  ini dituruti oleh para penduduknya dan pusat pemerintahannya juga di tempat sekarang ini. Di dalam musyawarah antar perangkat-perangkatnya untuk merubah nama Negeri Ratu menjadi desa Pulau Tergantung, di sempurnakan lagi menjadi Pulau Gemantung oleh sebab mengingat kesaktiannya atas bungkusan gula aren yang tergantung di serumpun batang bambu yang menaklukkan  Si PahitLlidah tidak bisa masuk Marga Bengkulah. Begitulah asal mula terbentuknya desa Pulau Gemantung dari asal kata bungkusan gula yang tergantung yang disempurnakan namanya.
Pulau Gemantung adalah sebuah Kesatuan Desa yang termasuk ke dalam Wilayah Administratif Kecamatan Tanjung Lubuk Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Pulau Gemantung saat ini terdiri dari empat desa yaitu Pulau Gemantung Induk, Pulau Gemantung Ilir (Sabah), Pulau Gemantung Ulu (ulu) dan Pulau Gemantung Darat (Urai - Urai). Masing-masing dari empat desa tersebut dikepalai oleh seorang Kepala Desa yang bertanggung jawab atas pemerintahan administratif dari masing-masing wilayah desanya. Namun secara kultur dan lingkungan, masyarakat Pulau Gemantung pada umumnya masih berbaur dengan akrab antara satu desa dengan desa yang lainya, ini disebabkan karena pada awal mulanya desa tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, namun seiring perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk, akhirnya pada tahun 2007 Pulau Gemantung dibagi menjadi empat desa.
Pulau Gemantung dihuni oleh sekitar 5500 - 6000 jiwa penduduk lebih. Sebagian besar dari jumlah penduduknya adalah pribumi/penduduk asli. Agama yang di anut adalah agama Islam, yang sudah mengakar sejak lama dan berbaur dengan unsur budayanya.

B.     Pangeran/Pasirah Yang Pernah Menjabat Di Marga Bengkulah
No
Nama pejabat
Jabatan
Keterangan
1
Puyang ratu segenab
ketua/raja
Kepala suku yang pertama di marga bengkulah
2
Pangeran sandawa ratu
pangeran
Pasirah /pangeran pertama
3
Pangeran ratu segenab
pangeran
Anak pangeran sandawa ratu
4
pangeran masratu
pangeran
Keluarga dari pangeran sandawa ratu
5
pangeran wiralago
pangeran
keluarga dari pangeran sandawa ratu
6
pangeran wirongerono
pangeran
keluarga dari pangeran sandawa ratu
7
pangeran marta wilago
pangeran
keluarga dari pangeran sandawa ratu
8
depati kuntjung
depati/pasirah
angkatan pertama dari gourvernement
9
pangeran haji hasan
pangeran
keturunannya
10
depati aji
depati/pasirah
keturunannya
11
depati rais wira ngerana
depati/pasirah
keturunannya
12
Pangeran H. usman marta wilaga
pangeran
keturunannya
13
Pangeran mohd. zainal nata diraja
pangeran
keturunannya
14
depati baharrudin zainal
pasirah
keturunannya
15
pjs. H agus
pjs.pasirah
keturunannya
16
Depati harun ali
pasirah
keturunannya
17
pjs. Burhannudin Yusuf
pjs.pasirah
diangkat oleh penda oki tahun 1970 - 1971
18
pjs. hambali pyn
pjs.pasirah
1973 – 1983 bubar marga bengkulah 1 april 1983 sesuai uu. no.5. 1979
19
Depati Hambali Pyn
Pasirah
1973 – 1983 bubar marga bengkulah 1 april 1983 sesuai uu. no.5. 1979
Tabel 1. Pejabat Marga Bengkulah hingga Tahun 1979

C.    Lambang Desa Pulau Gemantung
Secara sederhana lambang Pulau Gemantung dibuat tidak semata-mata hanya dilatar belakangi akan unsur keindahan dan bentuk fisiknya semata. Namun dalam setiap goresan, gambar dan tulisan yang tertera pada lambang tersebut mengadung makna filosofi yang diambil dari kearifan dan kondisi Pulau Gemantung yang sebenarnya. Berikut penjelasannya:
 
Gambar 2. bangunan
Gambar sebuah bangunan yang didasari pada pondasi yang rata yaitu melambangkan kesamaan hak dan kewajiban warga/masyarakat untuk berkontribusi didalam pembangunan desa, serta sebagai lambang kebersamaan dari setiap individu warga/masyarakat Pulau Gemantung.
Empat pilar yang menopang bangunan melambangkan empat buah desa bagian Pulau Gemantung yang terdiri dari Pulau Gemantung Ilir, Pulau Gemantung Induk, Pulau Gemantung Ulu dan Pulau Gemantung Darat.
Atap bangunan yang berpalang silang adalah melambangkan identitas budaya lokal yang tetap dipegang teguh oleh warga/masyarakat Pulau Gemantung.
Gambar 3. Dua Kuntm Tangkai Padi 

Gambar Dua kuntum tangkai padi yang melambangkan kesejahteraan dan keadilan.
Gambar 4. Bulan dan Bintang

Gambar Bulan dan Bintang melambangkan azaz budaya yang bersendikan kepada Syariat Islam
 
Gambar 5. Kain Panjang (Bersatu dan Berjaya)

Seleyer (kain Panjang) yang bertuliskan "Bersatu dan Berjaya" melambangkan keutuhan visi dan misi yang diemban, guna memelihara persatuan dan mewujutkan kejayaan.

Gambar 6. Sebuah Perisai

Gambar sebuah perisai yang melambangkan perlindungan akan unsur-unsur kearifan lokal sebagai identitas dan jatidiri warga/masyarakat Pulau Gemantung.
 
Gambar 7. (Pulau Gemantung)
Tulisan "Pulau Gemantung" adalah melambangkan kebanggaan akan sebuah nama dan identitas diri yang patut disyukuri oleh setiap warga/masyarakat Pulau Gemantung yang telah di sempurnakan oleh residen Palembang.
 
Gambar 8. Semboyan
Sebuah semboyan yang bertuliskan "Poda Ram Sahuwonan" yang artinya "Sesama kita saling peduli". Merupakan salah satu semboyan yang sangat dikenal dan memberikan semangat persatuan dan kesatuan masyarakat Pulau Gemantung.
 
Gambar 9. Lambang Desa Pulau Gemantung
Adapun tiga warna yang digunakan pada lambang ini adalah Hijau, Hitam dan Kuning Keemasan. Setiap warna tersebut mempunyai makna tersendiri.
Warna Hijau melambangkan kemurnian (nature/mature) dan kesahajaan yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman (Syariat).
1)      Warna Hitam yang terdapat pada garis penegasan dan tulisan adalah melambangkan ketegasan dan kemandirian dalam berbuat dan berfikir.
2)      Warna Kuning Keemasan adalah melambangkan keindahan, kemuliyaan dan kearifan resam budaya yang dipegang.
Dan mengapa desa ini dikaitkan dengan penambahan kata PULAU, padahal kalau dilihat dari monografinya yang diterjemahkan pada tahun 1930 tidak ada sama sekali kaitannya dengan pulau
Desa ini di katakan pulau karena letaknya yang dikelilingi oleh beberapa Pulau, Namun kebanyakan masyarakat di desa ini mengatakan bahwa asal negeri  ratu dulunya terbentuk dari segenggam tanah yang dibawa dari negeri  Arab, tidak tahu pasti siapa nama orang itu yang jelas masyarakat Pulau Gemantung mengenalnya dengan sebutan Muyang Tuan. Dulunya sebelum jadi Negeri Ratu daerah ini hanyalah lautan setelah di taruh segenggam tanah yang dibawa oleh Muyang Tuan, selang waktu secara ajaib timbul lah segumpal tanah yang bentuknya menjulang dan berujung berbentuk pulau, Muyang Tuan sendiri adalah kakak kandung dari putri darah putih.
Makam Muyang Tuan adalah makam pertama yang ada di desa Pulau Gemantung setelah daerah ini terbentuk. Konon katanya dulu makam Muyang Tuan dapat dilihat dari daerah palembang, sampai sekarang makam tersebut masih terawat dengan baik.


BAB III
SIMPULAN 


A.    Simpulan
Setelah melihat sejarah  desa Pulau Gemantung di atas Kesimpulan saya adalah :
1)      Pulau Gemantung adalah sebuah desa yang pernah di singgahi oleh Si Pahit Lidah yang menggiginkan kekuasan di Desa ini namun, berujung dengan kekalahan
2)      Keanehan yang di miliki oleh Putri Darah Putih adalah memiliki darah yang murni berwarna putih, jika di pikirkan dengan nalar mungkin kurang masuk akal tapi ini adalah salah satu fakta yang terdapat di dalam sejarah desa Negeri Ratu yang di ganti menjadi Pulau Gemantung.
3)      Dan pesona keindahan rumah peninggalan pangeran besar H.usman masih terawat dengan baik sampai sekarang yang berusia 104 tahun

Referensi ; 

Sumber sejarah, penulis himpun dari tokoh adat dan pejabat Desa Pulau Gemantung, untuk diajukan sebagai tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia pada tahun 2010-2011 saat penulis masih duduk di bangku sekolah menegah atas.

Biografi
1.      Nama                 :  Abu Bakar Sholeh
Umur                 :  65 tahun
Jabatan               :  Tokoh Adat Desa Pulau Gemantung

2.      Nama                 : Muhammad Fauzi
Jabatan               : Kepala desa pulau gemantung ilir


Komentar

  1. Luar Biasa ,,
    Sejarah,& Riwayat Desa pulau gemantung, sangat berguna bagi generasi muda,,,

    BalasHapus
  2. alhamdulilah berkat blog ini saya bisa mengetahui asal usul desa asal saya terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

sahabat rasulullah

Sahabat Nabi Muhammad SAW yang masih hidup “ the living sahabi “  Saat Sayyidatuna Khadijah ra, untuk berniaga baginda SAW berteduh di bawah pohon ini sebelum sampai kesana. ü   Inilah pohon yang memahami cinta buat Nabinya Muhammad SAW pohon diberkati ü   Sehingga sekarang pohon ini masih hidup lagi di Jordan. Sebab itu ia di beri nama “ the living sahabi “ yang berarti “sahabat NAbi yang masih hidup “ Sedikit sejarah mengenai pohon ini. . .  Ketika Rasullulah SAW keluar ke Syam bersama Maisarah salah satu pekerja Siti Khadijah yang setia. Sering kali   Baginda Muhammad SAW berteduh di bawah pohon tersebut, hal yang mengagumkan seketika Nabi duduk beristirahat dahan dan ranting-ranting pohon ini bergerak menaungi Baginda SAW dari sengatan cayaha matahari. Melihat kejadian itu seorang paderi mendatangi Maisarah ( Pembantu Syaidatina Khadijah ) dan menunjukkan kepadanya pohon tempat berteduh Rasululah SAW itu dengan berkata : “...